Kuratorial Pameran Narsis Tugitu Unite
“Bolak-Balik Fotocopy”
Kali ini Tugitu Unite, sebuah kelompok kepemudaan kreatif (kalo boleh dibilang seperti itu) yang di prakarsai teman-teman dari sebuah kontrakan di sekitaran belakang Kantor Kecamatan Jebres. Kelompok ini cukup menarik, mereka setiap 2 bulan sekali membuat zine yang dibiayai oleh kantong mereka masing-masing(tentunya dengan donator lainnya). Paling tidak Tugitu Unite telah memberi warna baru dalam dunia kesenirupaan khususnya di Solo.
Dengan formasi personil-personilnya yang memiliki berbagai ragam hobi, dari berdisko, mancing, membuat mereka memiliki ragam kegiatan yang berbeda-beda. Namun ada satu kegiatan yang rupanya sangat mereka gemari, semua personil Tugitu suka melakoninya, yaitu fotocopy. Ini bisa sangat dimengerti, karena dalam kekaryaan mereka memang selalu melibatkan mesin fotocopy dalam teknis kekaryaannya. Pada prinsipnya mesin fotokopi adalah peralatan kantor yang membuat salinan ke atas kertas dari dokumen, buku, maupun sumber lain. Mesin fotokopi zaman sekarang menggunakan xerografi, proses kering yang bekerja dengan bantuan listrik maupun panas. Mesin fotokopi lainnya dapat menggunakan tinta.
Maka dari itu, judul pameran mereka kali ini yang diselenggarakan di Rumput Kota Art Initiative adalah “Bolak-balik Fotocopy”. Fotocopy memang telah menjadi bagian penting bagi kita, khususnya para mahasiswa, begitu juga para personil Tugitu Unite. Sering kali mesin fotocopy seolah-olah menodong kita untuk menggunakan jasanya. Misalnya ketika kita berurusan dengan administrasi Negara, sudah pasti kita akan diwajibkan memfotocopy document-document yang dibutuhkan.
Ini adalah satu bentuk kejelian Tugitu untuk menangkap sebuah mesin yang digunakan dalam berproses kreatif. Jadi “Bolak-balik Fotocopy” merupakan indikasi rutinitas Tugitu dalam berproses kreatif, dan hasilnya adalah karya-karya yang dipamerkan pada pameran kali ini. Ini sejalan dengan konsep pameran di Rumput Kota yaitu karya-karya yang muda, mudah, dan murah, tanpa mengkesampingkan nilai estetik didalamnya.
Kenapa pameran narsis? Karena memang dalam karya pameran Tugutu kali ini memang menunjukkan kenarsisan mereka dalam berkarya. Mereka mememasukkan pencitraan-pencitraan diri mereka sendiri disetiap karyanya. Pencitraan-pencitraan tersebut bisa mengalami perubahan, pengurangan, atau penambahan image sesuai keinginan mereka. Kecurigaan curator dalam pameran mereka kali ini adalah Tugitu memang ingin menampilkan diri mereka sendiri berkedok karya dengan gaya masing-masing.
Namu pada karya “Bersama Kita Photocopy”, sungguh menggelitik ketika menikmati karya ini. Karya ini bercitrakan 2 Robocop, si polisi robot dari amrik yang muncul setengah badan dari belakan 2 mesin photocopy lengkap dengan senjata laras pendeknya. Dibawah 2 mesin photocopy tersebut terdapat teks “Bersama Kita Photocopy”. Ini mengingatkan saya pada slogan yang sering terdengar pada saat pemilu presiden 2 periode yang lalu, “Bersama Kita Bisa”. Masih ingatkah anda pasangan mana yang memiliki slogan tersebut? Jawabannya ada di karya ini. Dengan kenakalan mereka, setengah wajah bagian bawah Robocop yang seharusnya bule, disulap menjadi separo wajah bagian bawah pasangan presiden tersebut. Ini bisa jadi sebagai bentuk kenarsisan mereka dengan pemahaman sebagai sebuah bangsa. Bahwa dalam karya ini kedua tokoh tersebut dicitrakan sebagai pembasmi kejahatan, pembela kebenaran, dan kuat perkasa. Ataukah justru sebagai parody bahwa mereka adalah sepasang pemimpin yang diseragami robot(dari amrik) lengkap dengan senjata untuk menunaikan tugasnya dengan baik. Apapun itu, intinya bahwa pasangan ini tetap menganjurkan kita untuk bersama-sama kita photocopy. Memasyarakatkan photocopy, dan mem-photocopy-kan masyarakat!
Semoga pameran ini bisa menambah wacana daqn alternative dalam berproses kreatif bagi siapapun yang memiliki hasrat untuk berkarya. Selamat menikmati dan mengkoleksi!
Herlambang Bayu Aji, 2010







